Penilaian Kemampuan Dasar di Laboratorium Kimia

Endang Susilaningsih (2014) melakukan penyusunan instrumen penilaian praktikum kimia yang teruji reabilitas dengan menggunakan koefisien generalisabilitas menggunakan teori Brennen.

Penyusunan instrumen yang demikian digambarkan dalam bentuk gambar dibawah ini:


Mengenai keterkaitan antara pengetahuan laboratorium kimia dengan kemampuan psikomotorik siswa dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Julia Dian dan Indyah Sulistyo (2016). Mereka mengemukakan bahwa seseorang yang bekerja di laboratorium kimia harus menyadari bahwa di laboratorium kimia banyak mengandung resiko yang membahayakan keselamatan kerja. Siswa membutuhkan pengetahuan laboratorium agar dapat melaksanakan praktikum dengan aman dan efisien. Tetapi, banyak siswa yang memiliki pengetahuan laboratorium yang kurang. Hal ini bisa berpengaruh pada kelancaran peserta didik saat melakukan praktikum, dan juga meningkatkan resiko kecelakaan kerja. 

Dalam tulisannya mereka memiliki pengalaman dan telah menyelidiki pelaksanaan kegiatan praktikum di sekolah sering menunjukkan ketergantungan antara satu siswa dengan siswa yang lain. Sebagian besar siswa cenderung pasif dan hanya mengamati temannya melakukan praktikum. Beberapa alasan yang membuat siswa kurang aktif adalah mereka merasa kurang terampil dalam mengoperasikan alat, cenderung takut salah dalam memakai alat kimia, atau takut terkena bahan-bahan kimia.

Penilaian merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab guru. Permendikbud No 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan penilaian hasil belajar siswa mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang. Berdasarkan kenyataan di lapangan, penilaian kegiatan praktikum kimia masih belum maksimal. Pada umumnya hanya menitikberatkan penilaian aspek kognitif, sedangkan aspek psikomotorik dan afektif dilakukan hanya sebatas pengamatan tidak terstruktur dan bersifat umum untuk semua peserta didik, sehingga hasil penilaian kurang valid dan objektif. 

Aspek psikomotorik pada penilaian kemampuan psikomotorik berhubungan dengan penampilan dan aktivitas fisik siswa saat melakukan praktikum. Pelaksanaan praktikum pasti melibatkan alat, bahan kimia, teknik dasar penggunaan alat, dan keselamatan kerja di laboratorium. Oleh sebab itu, pengetahuan laboratorium yang baik sangat diperlukan sehingga menunjang kelancaran praktikum dan memberikan nilai tambah dalam penilaian psikomotorik. Secara tidak langsung, pengetahuan laboratorium dengan kemampuan psikomotorik mempunyai hubungan yang erat.


Penelitian lain yang menunjukkan penilaian pembelajaran kimia berbasis laboratorium dilakukan oleh Sriyono (2017), yang menjelaskan tahapan dalam pembelajaran kimia berbasis laboratorium:
1. Perencanaan




2. Stategi Pelaksanaan




3. Penilaian


4. Kendala dan Solusi


Referensi:

Sriyono. 2017. Pengelolaan Pembelajaran Kimia Berbasis Laboratorium di SMA Negeri 1 Mejayan Kabupaten Madiun. Thesis. Universitas Muhammadiyah Surakarta

Susilaningsih, Endang. 2014. Instrumen Penilaian Praktikum Kimia dan Estimasi Reliabilitasnya dengan Koefisien Generalisabilitas. Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia VI. Hal. 87-97


Pengantar Masalah:
Pre-test merupakan langkah pendahuluan dalam pembelajaran laboratorium. Pre test juga memiliki penilaian nya sendiri dan memiliki kriteria sebagai persepsi awal siswa mengenai praktikum yang akan dilakukan.

Masalah:
Pada tahap strategi pelaksanaan diatas direncanaan bahwa tahapan penilaian otentik dalam praktikum juga dimulai dalam post test. Bagaimana jika hasil penilaian pre-test memiliki hasil yang tidak baik?

5 comments:

  1. Hasil dari pre tes yang tidak baik itu tidak menjadi masalah dalam penilaian otentik. Penilaian otentik itu adalah penilaian yang apa adanya sesuai kondisi siswa. Pre tes hanya sebagai acuan sebelum pembelajaran. Dengan adanya pre tes maka persepsi awal siswa dapat diukur.

    ReplyDelete
  2. menurut saya, Hasil dari pre tes yang tidak baik itu tidak menjadi masalah dalam penilaian otentik. Penilaian otentik itu adalah penilaian yang asli dan apa adanya sesuai kondisi siswa. Pre tes hanya sebagai acuan sebelum pembelajaran. Adapun manfaat dari diadakannya pre test adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang disampaikan. Dengan mengetahui kemampuan awal siswa ini, guru akan dapat menentukan cara penyampaian pelajaran yang akan ditempuh nanti.

    ReplyDelete
  3. Menurut sayaHasil dari pre tes yang tidak baik itu tidak menjadi masalah dalam penilaian otentik. Penilaian otentik itu adalah penilaian yang apa adanya sesuai kondisi siswa. Pre tes hanya sebagai acuan sebelum pembelajaran. Dengan adanya pre tes maka persepsi awal siswa dapat diukur.

    ReplyDelete
  4. Penilaian otentik itu adalah penilaian yang asli dan apa adanya sesuai kondisi siswa. Pre tes hanya sebagai acuan sebelum pembelajaran, jadi menurut saya jika hasil pretest nya tidak baik tidak akan jadi masalah.

    ReplyDelete
  5. Hasil dari pre tes yang tidak baik itu tidak menjadi masalah dalam penilaian otentik. Penilaian otentik itu adalah penilaian yang asli dan apa adanya sesuai kondisi siswa. Pre tes hanya sebagai acuan sebelum pembelajaran. Adapun manfaat dari diadakannya pre test adalah untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang disampaikan.

    ReplyDelete